MAU ?

Jumat, 07 Februari 2014

CERPEN



Prolog
       






Sungai.....

    Siang itu aku duduk dibangku berwarna cokelat yang berada di tepian sungai jernih yang mengalir hingga ke suatu kota yang entah aku pun tak tahu pasti kota apa itu. Saat ini aku menunggu seseorang yang 3 tahun lalu selalu menemani hari hariku, seseorang yang selalu ada disisiku dan seseorang juga yang sekarang tepat berada disampingku duduk bersama denganku menikmati pemandangan indah dihadapan kami ''Hei Kanya'' sapanya setelah ia tiba dan duduk disampingku ''Sepuluh tahun lamanya ku merindukanmu , suaramu dan sosokmu, sekarang aku bisa merasakan hal itu lagi walaupun yah semua itu terasa asing bagiku'' tanpa sadarku air mata sudah membasahi pipiku. Sosok tinggi disampingku menatapku dan menghapus air mataku tetesan air mataku , dia Tristan seorang yang selama 7 tahun telah kukenal , dan dia berkata padaku ''Kau tersiksa ? maaf''
   
Segera aku menangkas perkataanya itu.
    ''Tidak, kau tak bersalah Tristan, kau pergi untuk mencari ilmu. kau sudah melakukan hal yang tepat. ya aku.....aku hanya tak percaya , ini semua nyata ?'' dengan bodohnya aku bertanya padanya
    ''Tentu schatze , ini nyata. Percayalah Kanya aku kembali untuk kelurga , sahabat dan untukmu'' katanya tegas
    ''Ya aku percaya padamu, kalau tidak untuk apa aku disini ? Menunggumu datang bukan?''

    Dia tak menjawab , dia hanya memberikan senyum  simpul yang indah di wajahnya. Senyum yang sama seperti dulu. Hari itu terasa sangat berkesan untukku, mungkin juga untuknya. Kami menghabiskan waktu dengan bernostalgia, mengingat moment-moment lucu,sedih,unik, bahkan yang tidak masuk diakal yang pernah kami lalui bersama. Jika kau bertanya kapan ? tentu sebelum Tristan pergi ke Jerman untuk menempuh cita-citanya. pernah aku berfikir bagaimana dia disana ? mengkhianatikukah ? ah ingat Kanya kau percaya padanya , kau harus mempercayainya seperti yang Tristan katakan padamu dia kembali hanya untuk keluarga, sahabat dan yang terpenting dirimu Kanya , iya kamu.

    Hari semakin larut , matahari sudah tak memancarkan terik cahayanya. Kami, maksudku aku kembali ke apartemen ku di daerah Kalibata, dan Tristan masih ada urusan diluar katanya dia harus bertemu dengan kakaknya disebuah cafe  Aria di daerah Gelora, itu sebabnya dia tidak mengantarkanku pulang ke apartemenku , tentu aku memakluminya. Sampai di lobi handphone ku berdering menandakan ada panggilan masuk, kurogoh saku di switer merah maroon ku. Ku lihat nama di layar handphone yang sedari tadi berdering , tertulis jelas nama ''Tristan be'' ya kuberi nama itu ''be'' yang merupakan singkatan dari kata babe. Kuangkat panggilan itu....
    ''Ya , hallo ? Ada apa ?'' jelasku
    ''Kamu sudah sampai ?'' tanyanya singkat
    ''Ya , aku baru sampai lobi apartemen. Kau sendiri, apakah sudah sampai apartemen atau masih-'' seketika pertanyaanku di tahan olehnya
    ''Hmm Kanya ?'' jawab nya bimbang
    ''Ya...ka kamu kenapa?'' tanyaku berhati-hati
    ''Kamu tunggu aku di lobi aku segera kesana'' singkat dia.
Aku menjawab dengan anggukan yang sudah pasti tidak dapat iya lihat. Tak lama sekitar 10 menit dia tiba di lobi , entah apa yang ingin dia katakan sampai membuatnya seperti ini. Kuharap hal yang akan dia sampaikan bukan hal negatif.
    ''Maafkan aku schatze, aku-''
    ''Kamu kenapa tan ? Maaf ? Untuk apa ?'' potongku sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.
    "Aku aku harus ke Jerman besok, dan aku tak tahu kapan aku kembali...'' dia memulai berbicara .
    ''Besok ya ?'' aku tertegun sesaat dan terpaksa mengatakan hal yang sejujurnya aku tak sanggup katakan ''Be, pergilah jika itu merupakan hal yang seharusnya kau lakukan,kemarin sore kamu katakan padaku jika aku harus percaya... aku akan menunggumu Tristan''
    ''Itu berarti aku harus meninggalkanmu lagi setelah aku disisimu hanya dalam waktu singkat ? Kau akan tersiksa Kanya!'' tegasnya.
    ''Sstt, tidak be semua akan baik-baik saja. Gute Nacht nice dream babe'' aku menutup pembicaraan karena sejujurnya aku tak sanggup lagi berdiri dengan keadaan ini, aku pergi meninggalkan Tristan tanpa memperdulikan panggilan dia aku menuju lift untuk mempercepat aku pergi dari hadapan Tristan.....