Prolog
|
Sungai.....
Siang itu aku duduk dibangku berwarna
cokelat yang berada di tepian sungai jernih yang mengalir hingga ke suatu kota
yang entah aku pun tak tahu pasti kota apa itu. Saat ini aku menunggu seseorang
yang 3 tahun lalu selalu menemani hari hariku, seseorang yang selalu ada
disisiku dan seseorang juga yang sekarang tepat berada disampingku duduk
bersama denganku menikmati pemandangan indah dihadapan kami ''Hei Kanya''
sapanya setelah ia tiba dan duduk disampingku ''Sepuluh tahun lamanya ku
merindukanmu , suaramu dan sosokmu, sekarang aku bisa merasakan hal itu lagi
walaupun yah semua itu terasa asing bagiku'' tanpa sadarku air mata sudah
membasahi pipiku. Sosok tinggi disampingku menatapku dan menghapus air mataku
tetesan air mataku , dia Tristan seorang yang selama 7 tahun telah kukenal ,
dan dia berkata padaku ''Kau tersiksa ? maaf''
Segera aku
menangkas perkataanya itu.
''Tidak, kau tak bersalah Tristan, kau pergi
untuk mencari ilmu. kau sudah melakukan hal yang tepat. ya aku.....aku hanya
tak percaya , ini semua nyata ?'' dengan bodohnya aku bertanya padanya
''Tentu schatze , ini nyata. Percayalah
Kanya aku kembali untuk kelurga , sahabat dan untukmu'' katanya tegas
''Ya aku percaya padamu, kalau tidak untuk
apa aku disini ? Menunggumu datang bukan?''
Dia tak menjawab , dia hanya memberikan
senyum simpul yang indah di wajahnya.
Senyum yang sama seperti dulu. Hari itu terasa sangat berkesan untukku, mungkin
juga untuknya. Kami menghabiskan waktu dengan bernostalgia, mengingat
moment-moment lucu,sedih,unik, bahkan yang tidak masuk diakal yang pernah kami
lalui bersama. Jika kau bertanya kapan ? tentu sebelum Tristan pergi ke Jerman
untuk menempuh cita-citanya. pernah aku berfikir bagaimana dia disana ?
mengkhianatikukah ? ah ingat Kanya kau percaya padanya , kau harus
mempercayainya seperti yang Tristan katakan padamu dia kembali hanya untuk
keluarga, sahabat dan yang terpenting dirimu Kanya , iya kamu.
Hari semakin larut , matahari sudah tak
memancarkan terik cahayanya. Kami, maksudku aku kembali ke apartemen ku di
daerah Kalibata, dan Tristan masih ada urusan diluar katanya dia harus bertemu dengan
kakaknya disebuah cafe Aria di daerah Gelora, itu sebabnya dia tidak mengantarkanku
pulang ke apartemenku , tentu aku memakluminya. Sampai di lobi handphone ku
berdering menandakan ada panggilan masuk, kurogoh saku di switer merah maroon
ku. Ku lihat nama di layar handphone yang sedari tadi berdering , tertulis jelas
nama ''Tristan be'' ya kuberi nama itu ''be'' yang merupakan singkatan dari
kata babe. Kuangkat panggilan itu....
''Ya , hallo ? Ada apa ?'' jelasku
''Kamu sudah sampai ?'' tanyanya singkat
''Ya , aku baru sampai lobi apartemen. Kau
sendiri, apakah sudah sampai apartemen atau masih-'' seketika pertanyaanku di
tahan olehnya
''Hmm Kanya ?'' jawab nya bimbang
''Ya...ka kamu kenapa?'' tanyaku
berhati-hati
''Kamu tunggu aku di lobi aku segera
kesana'' singkat dia.
Aku menjawab
dengan anggukan yang sudah pasti tidak dapat iya lihat. Tak lama sekitar 10
menit dia tiba di lobi , entah apa yang ingin dia katakan sampai membuatnya
seperti ini. Kuharap hal yang akan dia sampaikan bukan hal negatif.
''Maafkan aku schatze, aku-''
''Kamu kenapa tan ? Maaf ? Untuk apa ?''
potongku sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.
"Aku aku harus ke Jerman besok, dan aku
tak tahu kapan aku kembali...'' dia memulai berbicara .
''Besok ya ?'' aku tertegun sesaat dan
terpaksa mengatakan hal yang sejujurnya aku tak sanggup katakan ''Be, pergilah
jika itu merupakan hal yang seharusnya kau lakukan,kemarin sore kamu katakan
padaku jika aku harus percaya... aku akan menunggumu Tristan''
''Itu berarti aku harus meninggalkanmu lagi
setelah aku disisimu hanya dalam waktu singkat ? Kau akan tersiksa Kanya!''
tegasnya.
''Sstt, tidak be semua akan baik-baik saja.
Gute Nacht nice dream babe'' aku menutup pembicaraan karena sejujurnya aku tak
sanggup lagi berdiri dengan keadaan ini, aku pergi meninggalkan Tristan tanpa
memperdulikan panggilan dia aku menuju lift untuk mempercepat aku pergi dari
hadapan Tristan.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar